oleh
dhieaje
Tuhan ngasih cinta, biar kita tahu klo hati ini bukan terbuat dari baja. Jadi jangan cinta dijadiin dewa biar nggak salah arah
(Ara – In The Name of June)
Juni baru saja tiba, membawa hangat yang semakin menyesap. Mungkin tak akan ada lagi hujan di bulan juni seperti dendangan Sapardi Djoko Damono. Siang dan malam terasa sama saja, hangat yang berlebih (untuk tidak mengatakannya panas). Beberapa waktu yang lalu aku memang sempat membaca di situs BMKG bahwa Juni-Agustus tahun ini akan menjadi puncak kemarau di Indonesia.
Sejujurnya aku tidak merasakan banyak hal yang istimewa di bulan ini, rutinitas masih tetap seperti biasa, bangun pagi langsung melakukan beberapa hal sekaligus, dimulai dari menghidupkan TV, memanaskan air di
heater, lalu menyiapkan sarapan untuk kemudian bergegas menuju PARTIKEL Tower, kontrol sana-sini, sekadar
make sure bahwa semuanya berjalan sesuai dengan sistem.
Setidaknya sampai dua belas hari yang lalu aku masih merasa biasa saja, sampai bertemu dengan Ara sahabat kental ku sejak SMA saat
lunch tempo hari, Ara memulai obrolan siang dengan tema yang selama ini selalu aku hindari; cinta!
“Elu masih nggak percaya sama keajaiban cinta Dai?” Ara yang telah beranak pinak itu membuka obrolan. Gila anak ini, masih nggak lelah rupanya dia mencekoki ku.
“
Even in my dream, absolutely, No! hahaha” jawab ku singkat.
“Gila emang lu, terus kerja keras lu selama ini buat apa? Pitching sana-sini, terbang kesana-kemari, bill yang membludak tiap bulan terus orderan Partikel yang selalu banjir itu buat apa??” berondong Ara.
“Ya biar Partikel makin gede lah, aje gile lu…
The Most Admired Company in The World, itu tujuannya. Gua mau buktiin, anak kampung gini bisa bikin dan ngelola
advertising agency yang nggak cuma menang kandang di negeri sendiri, tapi bisa jadi macan di negara orang” aku belagak pilon, mencoba mengalihkan pembicaraan yang membuatku kehilangan nafsu menghabiskan iga bakar madu double itu.
“ Bukan itu maksud gua Dai, elu kerja keras, buat apa kalo pada akhirnya nggak ada yang mewariskan itu semua? apa beda elu sama robot?”
“Okay, sekarang gua tanya deh, apa sih pentingnya gua percaya sama sesuatu yang elu panggil cinta dan bisa bikin keajaiban itu?” sergah ku
“Badai… Badai.. elu liat gimana kehidupan gua sekarang? Secara materi kehidupan gua memang enggak semewah kehidupan lu, gua nggak bisa mondar-mandir pake GA
first class, klien gua pun paling banter kampus-kampus swasta, nggak kayak klien lu yang kebanyakan perusahaan multinasional, tabungan gua pasti beda banyak nol sama deposito lu. Tapi elu bisa liat, kehidupan gua begitu damai Dai, gua cukup bahagia pake corolla tahun ‘87, kemewahan bagi gua adalah ketika bangun tidur dapat hadiah secangkir kopi panas plus ciuman lembut di pipi kanan dan kiri dari Delia, penawar lelah gua adalah ketika pulang kerja pintu rumah dibukakan oleh Tantri dan Nui yang berebutan pengen digendong ayahnya” Ara panjang lebar bicara.
“Itu kan hidup lu Ra…”
“Dai, sekarang gua Tanya, kapan terakhir kali elu bisa tidur tanpa obat penenang?”
Shitt!! Ara memang tahu segalanya tentang aku, mulai dari kebiasaan ku sampai penyakit yang beberapa tahun terakhir ini aku derita: insomnia.
“Hey, ini nggak ada kaitannya sama cinta Ra!
Come on…”
“Ada Badai… elu cuma terlalu lemah buat mengakuinya. Elu terlalu pengecut buat mengakui bahwa sebetulnya elu butuh, bahkan sangat butuh sama cinta” Pungkasnya.
—————————————-dhie——————————————
Believe it or not, obrolan singkat siang itu dengan Ara cukup mengganggu aktifitas ku beberapa hari belakangan. Beberapa jadwal terpaksa aku tunda karena mendadak perutku sering mual. Bahkan pitching sore nanti dengan klien dari Thailand pun sepertinya harus aku wakilkan ke orang lain.
Kini aku seperti seorang pesakitan yang tak berdaya dalam gedung bertingkat bernama Partikel Tower, imperium bisnis yang aku bangun dengan sangat susah payah. Dari dalam ruangan berlabel mentereng dan angkuh yang berjudul “Chief Executive Officer” aku memandang lemah ke sekeliling, seisi kantor nampak sibuk dengan tugasnya masing-masing, berbagai wajah tergambar dengan bermacam ekspresinya. Dan ucapan-ucapan Ara kembali berkelindan, dunia ku terasa kembali berputar, perutku teraduk-aduk, mual!
———————————–dhie————————————————
“Cinta itu absurd Ra, bayangin elu kerja mati-matian tapi akhirnya semua itu orang lain yang nikmatin” kelakar ku pada Ara. Kami sedang di koffiefreak, coffee shop favorit kami, merayakan keberhasilan ku memenangkan Pitching untuk pertama kalinya.
“Alahh, itu kan teori lu aja” sergahnya
Sambil merengkuh gelas macchiato yang ke empat, aku merebahkan pundak ke sofa yang terasa lebih empuk dari biasanya.
“lagian, perempuan jaman sekarang, maunya cuma sama isi dompet lu doang. Mana ada perempuan yang suka dan cinta sama lu kalau elu cuma jalan kaki, apalagi juga bergaji cuma ratusan ribu.” Aku coba berteori lagi.
“Dai, lu liat apa yang ada di dalam cangkir gua ini?
“Caffe latte kan?”
“Yes, caffe latte ini bikinnya simple, elu cuma tinggal nyampurin susu, krim sama kopi aja, enggak perlu macem-macem. Tapi rasanya nggak kalah hebat dari pada macchiato punya lu, bahkan dari caffĂ© brave , Americano atau Affogato.” Ara mulai angkat bicara.
“Begitu juga sama cinta dan kehidupan Dai, elu bisa milih mau model caffe latte yang simple atau model macchiato yang unik, caffe brave yang berkelas, atau caffe blanded yang campur-campur. Gua Cuma mau bilang, cinta itu adalah kopinya hidup, dia yang jadi bahan utama, sisanya kaya krim, susu, sirup, es dan lain-lain sekadar pelengkap aja yang bisa lu ambil dari remah-remah bernama hikmah.”
“
Wait, apa lu bilang, cinta itu kopinya hidup? Nggak salah bray? Cinta itu cuma sampah dan penyakit! Sampah yang bikin elu dibuang, dan penyakit yang bikin elu lemah. Lu kira gua menangin pitching pertama ini karena hidup gua bertabur cinta? Enggak kawan.. ini semua karena kerja keras, murni karena kerja dan usaha gua”
“setidaknya untuk saat ini gua tahu dan yakin kalau elu adalah seorang pecinta,Dai”
“loh, gimana bisa? Apa perlu tambah lagi kopi nya biar lu paham apa yang gua maksud?” aku bingung, bagaimana bisa Ara menyebutku sebagai seorang pecinta, padahal jelas-jelas aku menolak semua pendapat bahwa cinta itu perlu bagi hidup manusia.
“Iya, pecinta pekerjaan lu! Hahahaha” tawa nya pecah.
——————————-dhie—————————–
“Krriiiiiiing….”
Ish, rupanya aku tertidur setelah meminum obat aspirin karena merasakan pening dan mual barusan. Suara Intercom yang membangunkan ku dari mimpi 15 tahun lalu.
“Pak, Dokter Danang sudah datang” sekretaris ku mengabarkan dari mejanya di luar ruangan.
“Oke, suruh masuk saja”
Tak berapa lama kemudian, dokter Danang masuk ruangan ku. Dia adalah dokter sekaligus psikolog pribadiku, orang yang sangat menyenangkan untuk tempat bercerita.
“Kabar baik mas Sevgi Fatehi Badai?” Yap, dokter danang lah satu-satunya orang yang memanggil nama lengkapku sekaligus saat berjabat tangan ketika bertemu. Sebetulnya aku benci nama lengkapku, Sevgi Fatehi diambil dari bahasa Azerbaijan yang berarti cinta penakluk badai, tapi mau gimana lagi, hanya nama itu lah peninggalan orang tua ku yang tersisa.
“Semoga Om” sambutku. Dokter danang memang biasa aku panggil Om.
“Loh, ada apa mas, ndak biasanya pengen ketemu jam sibuk begini? Mas sevgi sedang ndak ada jadwal kah?”
“Justru itu om, aku memanggil om karena merasa agak kurang baikan?”
“Partikel aman terkendali kan?”
“sangat terkendali malahan, ini bukan tentang pekerjaan om, tapi tentang kehidupan, tentang cinta.”
“Ah,sudah lama sebetulnya saya menunggu mas Sevgi bicara tentang cinta, hehehe” ujarnya sembari terkekeh.
Lalu cerita ku pun mengalir deras bak air bah, cerita tentang obrolan-obrolan ku dengan Ara, termasuk cerita tentang cinta yang selama ini aku pendam sendiri, tidak seorang pun yang tahu, bahkan Ara.
“Oke mas Sevgi, dalam psikologi kita mengenal istilah interaksi resiprositas alias balas membalas yang kemudian akan menyebabkan pelakunya mendapatkan kepuasan batin..”
“menurut beberapa ahli, ” dokter Danang melanjutkan “perilaku ini bisa terjadi salah satunya karena pengalaman traumatik dimasa lalu. Saat melakukan resiprositas, yang bersangkutan sangat boleh jadi akan mengalami regresi alias sebuah mekanisme defensif yang membuat dia kembali kemasa kecil atau masa lalu ketika mengadapi sebuah situasi.”
“Dalam bahasa sederhananya, mas Sevgi mempunyai pengalam buruk terhadap sesuatu yang disebut cinta, ini dimulai dari saat ayah dan ibu mas Sevgi berpisah, lalu mas Sevgi diasuh oleh kakek. Selanjutnya ketika beranjak dewasa, mas Sevgi pun berkali-kali gagal ketika membina hubungan dengan lawan jenis, dengan berbagai sebab, yang salah satunya seperti telah mas Sevgi ceritakan karena ketiadaan harta.” Aku mendengarkan dengan serius penjelasan doketer Danang.
“Nah, pengalaman terberat adalah ketika mas Sevgi gagal menikah dengan Ratna selulus kuliah, apalagi kegagalan itu dilatar belakangi oleh keputusan Ratna yang menerima calon usulan orang tuanya yang lebih mapan. Tidak ada yang salah sebetulnya, hanya saja peristiwa yang berulang kali terjadi cenderung dapat memberikan bekas yang mendalam dalam memori, atau dalam psikologi komunikasi hal ini disebut dengan repetisi.” Ini yang aku suka dari dokter Danang, ketika memberikan jawaban selalu gamblang dan komprehensif, melihatnya dari berbagai sudut pandang.
“Lalu apa yang menyebabkan aku menjadi sedemikian dendam kepada cinta om?” aku penasaran.
“ Tidak dapatnya mas Sevgi berdamai dengan masa lalu”
“Berdamai dengan masa lalu?”
“Iya, sekarang coba mas Sevgi maafkan semua yang pernah terjadi, anggaplah semua itu adalah ajang penempaan hingga mas Sevgi bisa jadi seperti sekarang ini. Maafkan, terima masa lalu itu sebagai kenyatan yang pernah terjadi, lalu ambil pelajaran. Mudah bukan?”
“sepertinya begitu” tanpa sadar aku mengangguk-angguk.
“Saya yakin, orang sehebat mas Sevgi pasti dengan mudah melakukannya. Saran saya, ambil lah libur beberapa waktu, keluar dari rutinitas, dan bertemu dengan banyak orang baru, itu akan sangat membantu, dan…” dokter Danang menggantung suaranya.
“Dan apa Om?” aku menyerbu penasaran.
“Dan siapa tahu, di luar sana mas Sevgi bertemu dengan puteri istimewa yang membuat hati meleleh, cair.” dokter Danang berujar sembari meletakkan telapak tangannya di dadaku, seolah sedang mentransfer energi.
“Halah, om memang paling bisa” aku coba berkelit, agak malu.
“Hehehe, baiklah mas Sevgi, kalau begitu saya pamit ya.” Pungkas dokter Danang.
“Oke Om, makasih banyak ya..”
Setelah berjabat tangan, kuantarkan dokter Danang ke pintu. Tapi beberapa langkah kemudian, dia tiba-tiba berbalik dan berbisik.
“Oh iya, hampir lupa. Berusahalah lebih peka, siapa tahu puteri itu justru adalah orang-orang yang selama ini berada tidak jauh dari lingkaran mas Sevgi, hehehe.” Lalu dia pergi sambil terkekeh.
“Dasar orang tua, sama saja…” batinku.
————————————dhie——————————————
Bandara Internasional Soekarno Hatta, terminal 2E
Aku sedang di
boarding lounge, menunggu untuk
boarding. Setelah dua hari lalu konsultasi dengan dokter Danang, aku memutuskan untuk mengambil liburan yang cukup panjang. Kali ini aku membuat route yang tidak biasa, Asia Tengah. Hehehe. Aku ingin mengunjungi Afganistan, Uzbekistan, Tajikistan, Kashmir, dan tentunya Azerbaijan. Tempat dimana namaku berasal. Semua urusan kantor sudah aku serahkan kepada orang-orang kepercayaan.
Beberapa menit kemudian, handphone ku berbunyi, sebuah sms masuk. Oh, Ara Rupanya.
“Hati-hati Dai, aku dan keluarga selalu mendoakan mu. Tuhan ngasih cinta, biar kita tahu klo hati ini bukan terbuat dari baja. Jadi jangan cinta dijadiin dewa biar nggak salah arah.” Sender: Ara +628124452115.
Ah, apa pula ini. Dia bilang jangan jadikan cinta sebagai dewa? Belum lagi pertanyaan ku yang lalu terjawab, dia sudah memberikan teka-teki berikutnya, aku curiga dia terlalu banyak baca buku filsafat,hehehe.
Kuhirup udara tanah air untuk terakhir kalinya, dalam dalam. Perlahan aku sudah mulai berdamai dengan masa lalu, berusaha berpijak pada kenyataan. Dan yang terpenting, aku mulai menerima, In the name of June,bahwa cinta itu adalah sebuah hal yang indah. End.
